Sabtu, 10 Agustus 2013

Kakakku Sayang

Namaku Syifa. Aku punya 2 orang kakak. Namanya kak Wawa dan kak Dira. Tapi, aku akan cerita tentang kak Wawa. Kak Wawa, pada saat aku sedang kelas dua, dia telah pergi ke pangkuan illahi.  Kak Wawa itu orangnya pandai cakap, tegar, dan paling gak suka kalau orang yang masuk dan keluar kamarnya itu gak langsung tutup pintu. Kalau tidak tutup pintu  beberapa detik aja, dia udah langsung teriak " TUTUP PINTUNYA!! NANTI KALAU NYAMUK MASUK GIMANA??!! KAN GAK ENAK KALAU DIGIGIT SAMA NYAMUK! CEPETAN TUTUP!!" Ya gitulah... Tapi, dia orangnya baik banget. Dia punya penyakit yang gak bisa di operasi. Penyakit itu baru di ketahui saat dia kelas 1 smp. Penyakit-nya itu adalah, penyempitan pembuluh paru. Mama dan Papa sudah membawanya ke mana mana. Dari mulai Jakarta, Singapura, dan Solo. O Iya, kakakku itu dulu di masukin ke pesantren di Solo. Tapi, hanya bertahan 2 bulan saja. Seperti yang kita tahu, bahwa pesantren itu banyak kegiatan. Sedangkan kakakku itu gak bisa. (Pada saat itu, belum di ketahui bahwa kakakku itu punya penyakit) Dan itu membuat aku dan keluargaku sedih. Dia pun sedih pastinya. Akhirnya dia dipindahkan ke salah satu smp negeri di Batam. Tapi, dia menjalani hidup ini dengan sangat tegar. Dulu itu dia di masukin sama mama ku ke sebuah tempat les, yaitu di Primagama. Tapi, hanya beberapa waktu saja. Dia bilang " Ma, wawa gak kuat buat les ma. Wawa keluar aja ya ma". Ya, apa boleh buat. " Ya, udah" kata mamaku. Tapi, walaupun tak bisa ikut banyak kegiatan, dia tetap berusaha untuk mencari sebuah hobi yang tidak membuat dia harus keluar rumah dan banyak gerak. Dan akhirnya, dia mendapatkannya. Yaitu, komputer. Dari komputer, banyak yang dapat dia lakukan, tapi, tanpa melakukan banyak gerakan. Dulu, saat smp, dia juara UN di sekolahnya. Kami sekeluarga senang sekali. Walaupun  dia punya penyakit, tapi dia tetap semangat belajar. Dan akhirnya, dia dapat masuk di salah satu SMA favorit di kota ku. Dan pastinya, dia makin semangat belajar. Sekarang aku akan langsung ceritain aja detik detik terakhir kak Wawa mau meninggal.,,
14-02-2011
Pada malam hari, aku melihat mama dan papa sedang beres-beres baju. Ada kak Wawa di sana. " Loh, ini mau ngapain? Papa sama mama mau pindah? Kok, aku gak di ajak? Mau pindah ke mana?" Bertubi-tubi pertanyaan ada dalam pikiranku. Karena penasaran, aku langsung bertanya. "Ma, mau kemana?" Mamaku menjawab " Mama, Papa, dan Kak Wawa mau ke rumah sakit Budi Kemuliaan". " Ngapain bawa baju?? Lagian nanti mau pulang kan??". "Nggak tau juga. Mama jaga jaga aja. Pokoknya nanti kalau mau tidur jangan tunggu mama. Dira berani kan? Syifa tidur sama kak dira saja ya" ( Hehehe, pada saat itu aku masih tidur sama mamaku)." Iya ma" kata kak Dira. "Hah? Nanti adek gak bisa tidur ma,," kataku. " Loh, pas mama sama papa naik haji, adek bisa tidur sama kak dira". "Tapi kan...". "Udah, kan gak selamanya. Insya Allah besok mama pulang kok, nak". " Janji??". " Insya Allah". Aku hanya tersenyum. Mama sama papa melanjutkan beres beres baju mereka. Tiba tiba kak wawa bilang " Ma, wawa mau buang air kecil' Akhirnya, kak Dira membantu kak Wawa untuk pergi ke kamar mandi. Mungkin, kak Wawa lagi setengah sadar. Akhirnya, setelah siap semuanya, saatnya mereka pergi. " Mama pergi dulu ya. Assalamualaikum''. " Waalaikumsalam:" Aku langsung memluk mama. Setelah mereka pergi, aku bilang sama kakakku, " Loh, kakak berani?" "Berani dong, adek udah ngantuk?". "Belum kak". " Ya, udah. Kita nonton aja yuk". " Ayuk". Akhirnya, kakakku langsung menghidupkan televisi, dan kami nonton. "Dek, tidur yuk. Kakak udah ngantuk". "Ya, udah. Ayo tidur". Pada saat mau tidur, aku menangis. "Loh kenapa nangis dek??". "Adek rindu mama". "Cup..cup..cup udah gak usah nangis. Tidur yuk". Aku hanya mengangguk. Akhirnya aku tertidur.
15-02-2011
Pagi harinya, aku terbangun. Aku melihat jam "Oahmmm.. masih jam 2 rupanya". Aku mencoba untuk tidur. Tapi, aku merasa tidak mengantuk. Aku pun melihat kakakku. "Eh, kakak masih tidur". Aku melihat jam lagi. "Hah? Udah jam 5? Perasaan tadi jam 2 deh". Ternyata oh ternyata jam 2 itu jarum panjangnya. "Tumben aku bangun duluan. Biasanya aku yang susah di bangunin". "Yaelah... Eh, belum shalat subuh!''. Aku membangunkan kakakku. "Kak Dira, sholat subuh yuk". " Eh, adek udah bangun?". "Lihat aja sendiri. Kalau adek belum bangun, siapa yang bangunin kakak?". "Hehehe. Ya udah, yuk, sholat subuh". Saat mau wudhu, hp kak Dira berdering. Kak Dira langsung mengangkat hp itu.
"Assalamualaikum" 
"Waalaikumsalam"
"Mama!"
"Iya nak. Tadi malam adek bisa tidur?"
"Bisa ma. Tadi pagi aja dia yang bangunin Dira.
"Bagus kalau gitu"
"Mama nanti pulang kan?"
"Gak tau juga. Kak Wawa di Opname"
"Hah? Di Opname?"
"Iya"
"Semoga kak Wawa bisa cepat sembuh"
"Amin, udah sholat subuh?"
"Belum. Ini aja baru mau sholat subuh"
"Iya. Cepat sholat subuh ya. Nanti Papa datang ke rumah."
"Iya ma"
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam".
Kak Dira menutup telepon. "Kak Wawa di opname ya kak?". "Loh adek dengar?". Aku mengangguk. "Iya dek, kak Wawa di opname". "Semoga kak Wawa bisa sembuh". "Iya dek. Ya udah, yuk, sholat subuh. Setelah wudhu dan Sholat Subuh, aku berdoa, "Ya Allah sembuhkanlah penyakitnya, Ya Allah. Agar kami bisa bersama-sama lagi. Amin". Lalu aku membuka mukena dan melipat mukena dan sajadah. "Kak kita sarapan apa? Mama gak masak". "Yang ada aja, dek". Saat kami ke dapur, ada suara klakson mobil papa. TIN..TIN... 
"Eh papa pulang!". Lalu papa turun dari mobil dan mengetuk pintu. "Assalamualaikum". "Waalaikum salam". Aku membuka pintu rumah. Aku melihat wajah papa. Wajah nya, sama sekali tidak bersemangat, sedih dan gelisah gitu deh. "Papa kenapa?"."Kak Wawa di Opname". "Iya pa". "Kalian udah sarapan?"kata papa. "Ini mau sarapan". "Dek, kita sarapan susu sama roti ya dek". "Iya kak."Setelah sarapan, kami langsung mandi. Setelah mandi kami pergi ke rumah sakit. Aku melihat ada papan yang bertuliskan "ANAK BERUMUR DI BAWAH 12 TAHUN DILARANG MASUK". "Pa, adek gak boleh masuk ke ruangan nya". "Gak papa, kan adek keluarganya". Akhirnya kami masuk. "Assalamualaikum". "Waalaikumsalam". "Mama!Kak Wawa!". Aku langsung memeluk mama. Aku melihat kak Wawa terbaring di tempat tidur rumah sakit dengan mata tertutup "Kak Wawa!" Aku memeluk Kak Wawa. Setelah itu ada dokter dan perawat datang untuk menyuntik kak Wawa. Setelah beberapa lama di rumah sakit aku pulang. Mama juga pulang, tapi, hanya sementara. Papa yang tinggal di rumah sakit untuk menemani kak Wawa. Setelah pulang ke rumah, kami semua sholat ashar. Setelah sholat ashar, mama di telepon. Tiba tiba mama menangis. Setelah telepon mama tutup. Aku bertanya "Ma kenapa?". "Kak Wawa koma."."Hah!!?? Koma?". "Ayo, kita langsung ke rumah sakit. "Setelah sampai ke rumah sakit, kami memasuki ruang VIP. Mamaku langsung berteriak, ANAKKU!!!!. Aku bengong, "KAKAK!" Aku melihat kakakku terbaring dengan kain putih di atasnya. Aku menangis kencang sekali, lebih kencang dari teriakan mamaku. Semua orang menenangkanku. "Sudah nak,sudah,," kata mamaku. Setelah tangisanku sudah agak reda, aku keluar. Aku duduk di depan kamar rumah sakit itu sambil tidak percaya dengan apa yang terjadi di hidupku ini. Kak Wawa meninggal?Apakah ini mimpi??! Kak Wawa memberikan aku sejuta pengalaman yang di berikannya padaku karena berjuang melawan penyakitnya. Kak Wawa meninggal tanggal 15-02-2011. Ya, itu benar, kak Wawa memang sudah meninggal. Kak Wawa tidak akan kembali lagi. Aku yakin dia masih ada, tapi di dimensi yang berbeda. Selamat jalan, Kak Wawa. Kami tidak akan pernah melupakanmu. Semoga engkau diterima di sisi Allah SWT. Amin.
                                                                                                                        
                                                                                                                         Kisah Nyata Penulis